Para Budak Dunia Meninggalkan Masjid?

Sebuah kehidupan yang paradok di kalangan Umat Islam, selalu berlangsung di setiap bulan Ramadhan. Pemandangan yang berulang. Setiap tahunnya. Episode kehidupan yang dipertontonkan oleh para pencari dunia. Pengejar nikmat dunia. Bukan para pencari akhirat, dan kemuliaan akhirat. Bukan mereka yang  mencari keridhaan Rabbnya. Bukan mereka yang mencari kasih-sayang-Nya. Mereka berlari bersama bisikan syetan terus mengejar dunia.

Gambaran ini sangat jelas. Nampak dengan kasat mata. Tidak dapat ditutupi lagi. Bukti-bukti banyaknya kaum muslimin yang larut dengan bisikan syetan, dan mengejar kenikmatan dan aksesoris dunia adalah semakin mendekati akhir Ramadhan, di mana pemandangan di masjid-masjid, yang merana ditinggalkan jamaahnya. Masjid-masjid mulai sepi. Banyak masjid yang kosong. Tinggal beberapa shap (baris). Tak  lagi kedengaran suara lantunan ayat-ayat Kitabullah, yang mulia itu dibaca di malam hari.

Kaum muslimin mengubah ibadahnya bukan di masjid-masjid. Kaum muslimin mengubah amal-amalnya bukan lagi dengan semakin khusuk beribadah, berdzikir, melakukan tilawah dan mentadzaburi Al-Qur’an, tetapi justru larut dengan lautan manusia lainnya, berada di tempat-tempat keramaian, seperti mall, plaza, café, serta tempat-tempat yang tidak ada hubungan dengan ibadah.

Mereka memuja hawa nafsu, memuaskan kenikmatan hidup dengan aksesoris yang artifisial, serta tidak mendatangkan manfaat apapun dihadapan Allah Azza Wa Jalla. Sungguh sebuah ironi. Sebuah pengkhianatan makhluk terhadap pencipta-Nya, yang tidak dapat mengucapkan dan menampakkan rasa syukurnya atas segala nikmat yang telah dilimpahkan-NYa.

Masjid-masjid di komplek perumahan yang mewah, jamaahnya hanya terdiri para pembantu rumah tangga (PRT), sedangkan para ‘Nyonya dan Majikan’, tak nampak lagi di masjid. Sangat jarang para ‘Nyonya dan Majikan’, menyempatkan diri ikut berbaur dengan umat dan kaum muslimin melakukan ibadah shalat Tarawih, apalagi berbuka puasa. Masjid yang indah dengan keagungannya itu, isinya tak lain, orang-orang miskin dan para PRT, yang rajin beribadah. Anak-anak para ‘Nyonya dan Majikan’ hanya sibuk memainkan BB (Black Berry) atau mainan lainnya, saat berlangsung shalat, dan kemudian mereka pergi, tidak mengikuti shalat dengan khusu’.

Tradisi muslim di Indonesia sangat paradok dengan ajaran Islam. Menjelang akhir Ramadhan mereka bukan lagi justru meningkatkan ibadahnya. Tetapi, yang terus membayangi dalam benak mereka adalah jenis pakaian apa yang akan dipakai saat lebaran (Idul Fitri) nanti? Atau jenis makanan apa yang akan disiapkan menghadapi lebaran (Idul Fitri) nanti? Atau jenis kendaraan (mobil) yang akan digunakan berkunjung dan silaturrahim ke keluarga, sanak-famili dan handai taulan, serta para kerabat dan kolega? Seakan setiap lebaran menjadi parade ‘pamer’ kemewahan, bukan lagi menjadi saat untuk menunjukkan sifat-sifat  ‘ketaqwaan’ dihadapan sesama muslim.

Karena itu, yang paling sibuk saat menjelang akhir Ramadhan adalah kantor-kantor, pasar, mall, plaza, yang menjadi menu utama pembicaraan hanyalah persiapan menjelang lebaran. Semuanya berkaitan dengan kehiduan dunia, yang tidak mempunyai relasi dengan kehidupan akhirat. Tidak memiliki relasi dengan tingkat ketaqwaan seseorang dihadapan Allah Azza Wa Jalla. Karena itu, tak heran, kehidupan kaum muslimin semakin carut-marut, hina, tidak memiliki kemuliaan (izzah) dihadapan musuh-musuhnya. Karena, hakekatnya di dalam dada dan sanubari mereka telah tertanam dalam-dalam budaya materialisme, dan bahkan mereka sudah menyembah materi, serta menjadikan materi sebagai sesembahan mereka.

Materi sudah menjadi ‘tuhan-tuhan’ kecil, yang menguasai seluruh hidupnya. Maka tak heran mereka untuk memenuhi kehidupan duniawinya, tak segan-segan mengikuti bisikan syetan, dan berbuat maksiat melanggar semua aturan dan ketentuan Allah Rabbul alamin, dan tidak mau tunduk dan patuh, karena mereka sudah terjerumus kedalam kehidupan materialisme itu.

Padahal, saat-saat menjelang akhir Ramadhan, seharusnya kaum muslimin meninggalkan kehidupan dunia, seperti yang diajarkan oleh Baginda Rasulullah Shallahu alaihi wa salam, dan waktunya  hanya digunakan beribadah dan bertaqarrub kepada Azza wa Jalla. Tidak lagi disibukkan memikirkan tentang dunia, yang tidak memiliki arti apa-apa dihadapan Allah Ta’ala. Mengejar maghfirah-Nya.

Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Rabbmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS, Al-Imran : 133).

Betapa Allah Azza wa Jalla telah memberikan balasan (jaza’) yang tak terhitung nilainya, bagi siapa saja yang dengan tulus-ikhlas, beribadah dan memohon ampunan dari Rabbnya, dan akan mendapatkan balasan berupa surga, yang luasnya seluas langit dan bumi, khususnya bagi mereka yang bertaqwa. Seharusnya kaum muslimin berusaha semakin setulus-tulusnya untuk mendapatkan maghfirah (ampunan) dari Rabbul Alamin, dan menjadi orang-orang yang muttaqin (bertakwa) dengan ganjaran, yang digambarkan berupa surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Karena di akhir Ramadhan ada saat ‘Lailatur Qadr’, di mana Allah Rabbul Alamin akan memberikan ampunan bagi hamba yang bertaqwa.

Bandingkan dengan usaha-usaha manusia yang terobsesi dengan materi dan kenikmatan dunia, dan menghabiskan waktunya hanya untuk mengejar dunia? Berapa materi yang didapatkan oleh manusia selama ia hidup dan bekerja di dunia itu? Bandingkan dengan jaminan dan balasan dari Allah Azza Wa Jalla yang  melebihi apa yang didapatkan manusia di dunia. Tidak ada artinya dibandingkan dengan semua yang akan diberikan Allah itu, dibandingkan dengan yang diperoleh manusia.

Manusia hanyalah produktif dan dapat menikmati kehidupannya sebatas umur 50 tahun, sesudah itu, kondisi fisik manusia sudah tidak efektif untuk dapat menikmati kehidupan dunia. Semua yang didapatkan di dunia akan ditinggalkannya. Isteri, anak keturunan, rumah, kendaraan, dan segala harta benda, semuanya akan ditinggalkan. Manusia akan mati.

Manusia hanya akan menempati tempat yang sangat sempit yang bernama alam kubur, yang luasnya tidak lebih dari 1 X 2 yang bersifat kekal. Sebaliknya, kehidupan akhirat akan kekal selamanya. Betapa bahagianya bagi mereka yang mendapatkan kemuliaan di sisi-Nya, dan ditempatkan surga-Nya?

“Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal”. (QS, Al-Imram : 136). Wallahu’alam.

Sumber : eramuslim

About sefudien
Ordinary, A Hardthinker, Pokonya add ja fb nya di alet_ahmed@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: