Mengenal Allah (lanjutan)

Dia adalah Zat yang tidak bisa diserupakan dengan sesuatupun. Tidak ada yang lepas dari pantauannya. Ini tidak berarti bahwa Dia berada di setiap tempat, tetapi yang benar adalah, Dia bersemayam di langit, di atas ‘Arsy. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran, Dia Tuhan yang Maha Pemurah, bersemayam di atas ‘Arsy (QS. Thahaa : 5).

Dan firman-Nya, Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dialah yang Maha Pemurah (QS. Al Furqaan : 59).

Dia juga berfirman, Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka hanya milik Allah segala kemuliaan. Kepada-Nya naik perkataan-perkataan yang baik dan amal shalih dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan, bagi mereka azab yang keras dan rencana jahat mereka akan hancur (QS. Faathir : 10).

Dan Nabi SAW pernah menetapkan keislaman seorang budak ketika beliau bertanya kepadanya, “Dimana Allah?” Lalu budak itu menunjuk ke arah langit.

Dan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW bersabda, “Ketika Allah menciptakan makhluk, Dia menuliskan ketetapan atas diri-Nya, di sisi-Nya di atas ‘Arsy : bahwa rahmat-Ku mendahului murka-Ku.”

Dan dalam lafadz yang lain disebutkan, “Ketika Allah menciptakan makhluk, Dia menetapkan atas diri-Nya dalam sebuah kitab di sisi-Nya di atas ‘Arsy : sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku.”

Selayaknya, penyebutan kata istiwa’ (bersemayam) tanpa disertai penafsiran. Kata itu berarti istiwa’u adz-dzat di atas ‘Arsy, bukan berarti duduk seperti yang dikemukakan oleh kelompok Mujassamah dan Karamiyah. Kata istiwa’ juga tidak berarti tinggi seperti yang dikemukakan oleh kelompok Asy’ariyah. Juga tidak berarti penguasaan dan dominasi seperti yang dikemukakan oleh kaum Mu’tazilah, karena syariat tidak mengisyaratkan hal itu. Para sahabat dan tabi’in juga tidak pernah mengungkit hal itu.

Diriwayatkan dari Ummu Salamah, isrti Nabi SAW mengenai firman Allah, “DiaTuhan Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas ‘Arsy.” Dia (Ummu Salamah) berkata, “Al-kaif (cara) tidak bisa dipikirkan, dan istiwa’ tidak diketahui. Pengakuan terhadap hal itu merupakan kewajiban, da mengingkarinya adalah kekafiran.

Dalam kitabnya, Shahih Muslim, Imam Muslim bin al-Hajjaj meriwayatkan hadits itu dari Ummu Salamah r.a, dari Nabi SAW. Demikian juga hadits yang diriwayatkan Anas bin Malik r.a.

Beberapa saat sebelum meninggal, Imam Ahmad mengatakan, “Berita-berita tentang sifat-sifat Allah berjalan seperti yang datang tanpa syubhat.”

Dalam riwayat yang lain, Imam Ahmad berkata, “Aku berbicara dan mengeluarkan pendapat mengenai hal ini berdasarkan pada yang terdapat dalam Kitabullah atau hadits yang diriwayatkan dari Nabi SAW., dan atsar para sahabat serta para tabi’in. Selain itu, maka pembicaraan mengenai hal itu adalah tindakan yang tidak tepuji. Seseorang tidak boleh menanyakan ‘bagaimana’ mengenai sifat Allah.”

Di saat lain Imam Ahmad juga berkata, “Kami beriman bahwa Allah ‘Azza wa Jalla bersemayam di atas ‘Arsy, bagaimanapun caranya dan sesuai dengan kehendak-Nya, tanpa batasan serta sifat yang diberikan. Hal itu didasarkan pada apa yang diriwayatkan dari Sa’id bin Musayyab, dari Ka’ab al-Ahbar, dia menceritakan bahwa Allah berfiman dalam Taurat, “Aku, Allah berada di atas hamba-hamba-Ku, ‘Arsy-Ku di atas semua makhluk-Ku, dan Aku berada dia atas ‘Arsy-Ku, disana Aku mengurus hamba-hamba-Ku, tidak ada sesuatupun dari hamba-Ku yang tersembunyi bagi-Ku.”

Keberadaan Allah di ‘Arsy telah disebutkan dalam setiap kitab yang diturunkan kepada setiap Nabi yang diutus tanpa disertai penjelasan mengenai “bagaimana”. Karena Allah mempunyai sifat Maha Tinggi, Maha Kuasa, Maha segala-segalanya atas semua makhluk-Nya, maka kata istiwa’ menjadi sifat zat tersendiri yang telah dijelaskan melalui tujuh ayat Al-Quran dan hadis-hadis Rasulullah SAW. Dia mempunyai sifat-sifat yang tidak dapat digambarkan dan diserupakan dengan sifat-sifat makhluk-Nya, misalnya, tangan, wajah, mata, pendengaran, penglihatan, kehidupan dan kekuasaan. Selain itu, Dia juga menyandang sifat Pencipta, Pemberi rezeki, Yang Menghidupkan dan Mematikan. Berkenaan dengan semua itu, kita tidak boleh menyimpang dari Al-Quran dan Sunnah Rasullullah SAW. Sedangkan mengenai proses dan cara dalam sifat-sifat-Nya, hal itu sepenuhnya kita serahkan kepada Allah.

Sufyan bin ‘Uyainah pernah berkata, “….Yaitu, sebagaimana Allah menyifati diri-Nya sendiri dalam kitab-Nya, sehingga tidak ada penafsiran bagi sifat-sifat-Nya kecuali yang telah diberikan oleh-Nya. Kita tidak boleh mengada-ada penafsiran yang lain, karena Dia adalah Zat yang gaib dan tidak dapat dijangkau oleh akal. Mari bersama-sama memohon ampunan dan kesehatan serta berlindung kepada-Nya dari membicarakan sifat-sifat-Nya dengan pembicaraan yang melenceng dari apa yang telah Dia atau Rasul-Nya sampaikan.”

Allah senantiasa turun ke langit dunia setiap malam dengan cara-Nya sendiri dan sesuai kehendak-Nya. Dia lalu memberikan ampunan kepada siapa saja dari hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki yang berbuat dosa, kesalahan, serta maksiat. Maha Suci dan Maha Tinggi Allah di atas semua yang tinggi, tiada Tuhan selain Dia yang mempunyai Asma al-Husna. Pengertian turunnya Allah ke langit dunia tidak berarti turunnya rahmat dan pahala seperti yang dikemukakan oelh kaum Mu’tazilah dan Asy’ariyah.

Ubadah bin Shamit r.a. menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Allah yang Maha Suci lagi Maha Tinggi setiap malam turun ke langit dunia, yaitu ketika tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berfirman, ‘Apakah ada orang yang meminta, sehingga akan dipenuhi permintaannya. Apakah ada orang yang memohon ampunan sehingga diberi ampunan. Apakah ada orang yang mengeluh sehingga akan dihilangkan keluhannya?’ Sampai dia mengerjakan salat Subuh. Kemudian Tuhan kami yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kembali naik.”

Dan dalam riwayat yang lain, juga dari Ubadah bin Shamit r.a., dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Allah yang Maha Suci lagi Maha Tinggi turun ke langit dunia setiap malam pada saat sepertiga malam terakhir, lalu Dia berfirman, ‘Apakah ada dari hamba-hamba-Ku yang berdoa kepada-Ku sehingga Aku mengabulkan untuknya? Adakah orang yang menzhalimi dirinya sendiri berdoa kepadaku sehingga Aku memberikan ampunan kepadanya? Adakah orang yang kesulitan memperoleh rezeki berdoa kepada-Ku sehingga akan Aku limpahkan rezeki kepadanya? Adakah orang yang dizhalimi mengingat-Ku sehingga Aku akan menolongnya? Adakah orang yang punya masalah berdoa kepada-Ku sehingga Aku akan memberikan jalan keluar baginya?’ Dia tetap masih seperti itu sehingga datang waktu subuh, kemudian Dia kembali naik ke kursi-Nya.”

Hadits itu telah diriwayatkan dengan berbagai lafadz yang cukup banyak yang bersumber dari Abu Hurairah r.a., dari Jabit bin Abdullah r.a., dari Abdullah bin Mas’ud, dari Abu Darda, dari Ibn Abbas dan dari ‘Aisyah r.a., yang semuanya dari Rasulullah SAW. Oleh karena itu mereka mengutamakan shalat malam pada sepertiga malam terakhir.

Diriwayatkan dari Abu Bakar, dari Nabi SAW., beliau bersabda, “Allah turun pada malam pertengahan bulan Sya’ban ke langit dunia, lalu Dia mengampuni setiap jiwa kecuali orang yang di dalam hatinya terdapat kedengkian atau syirik kepada Allah.”

Diriwayatkan pula oleh Abu Hurairah r.a., dia bercerita, “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla jika pertengahan malam pertama telah berlalu, turun ke langit dunia seraya berfirman, ‘Adakah orang yang memohon ampun sehingga Aku memberikan ampunan kepadanya? Adakah yang meminta sehingga Aku memberinya? Adakah orang yang bertobat sehingga Aku terima tobatnya?’ Sampai terbit fajar.”

Yahya bin Mu’in berkata, “Jika ada penganut paham Jahamiyah yang berkata kepadamu, “Bagaimana Allah turun?” Maka katakan kepadanya, “Bagaimana Dia naik?”

Al-Fudhail bin Iyadh berkata, “Jika ada penganut paham Jahamiyah berkata kepadamu, “Aku ingkar kepada Tuhan yang turun.” Maka katakanlah kepadanya, “Aku beriman kepada Tuhan yang berbuat apa saja yang Dia kehendaki.”

Dikutip dari buku : FIQIH TASAWUF Syekh Abdul Qadir Jailani..

About sefudien
Ordinary, A Hardthinker, Pokonya add ja fb nya di alet_ahmed@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: